Kamis, 25 April 2019

DAUR DAN RIAP TEGAKAN


·         Pengertian Daur
Daur ialah jangka pembentukan kayu dan waktu yang diperlukan untuk sehingga pohon tersebut dapat ditebang. Daur merupakan factor pertama yang mempengaruhi hasil. Pada kondisi system tebang habis penentuan daur dapat secara tepat dan waktu yang jelas. Sedangkan pada system yang lain seperti tebang pilih daur biasanya disebut dengan istilah siklus tebang, dalam hal ini merupakan umur rata-rata dari pohon yang telah mencapai suatu diameter tertentu bagi suatu objek manajemen (Jerram, 1935)

·         Faktor - faktor yang mempengaruhi Daur
Ada 2 faktor yang mempengaruhi daur yaitu faktor fisik dan faktor finansial. Yang pertama ialah produk apa yang diinginkan atau dapat dijual dengan baik (dalam kaitan pemasaran atau permintaan), dan yang kedua tentang produktivitas hutan, atau apa yang dapat ditumbuhkan (penawaran). Secara jelas memang masalah biaya dan pendapatan juga masuk dalam kedua faktor tersebut. Kedua faktor tersebut harus diintegrasikan dan penentuan daur berkaitan dengan tujuan manajemen. Walaupun memang pada akhirnya penentuan final tentang daur merupakan keputusan politik/ kebijakan. Faktor Phisik Yang meliputi nilai produk dan factor hutannya itu sendiri. Dalam hal ini nilai produk dapat dikatakan bahwa karena tujuan budidaya hutan ialah untuk memanfaatkan kayu, jadi ukuran dan kualitas dari kayu merupakan hal yang sangat penting dalam menentukan panjang daur. Apakah produknya untuk kayu bakar, kayu pulp, atau kayu pertukangan. Penggunaan kayu untuk kayu pertukangan jelas membutuhkan ukuran tertentu, misalnya minimal kayu harus mempunyai diameter sebesar 35 cm. Maka untuk ini, daur ditentukan berapa lama jenis pohon tersebut pada tempat tumbuh tertentu dapat mencapai diameter tersebut. Demikian juga bila pohon yang akan kita tanam merupakan jenis yang akan dimanfaatkan untuk kayu pulp, maka diameter minimal untuk kayu pulp itu berapa? Jadi disini tujuan manajemen dalam menanam pohon perlu diperhatikan. Pada manajemen hutan seumur, panjangnya daur harus ditentukan untuk jenis pohon utama, sedang jenis pohon yang lain mengikuti bagaimana baiknya.

·         Macam-macam Daur
Beberapa macam daur dalam hal ini dikenal adanya :
1).Daur fisik;
2).Daur Silvikultur;
3).Daur tekhnik;
4).daur volume produksi maksimal;
5).Daur pendapatan tertinggi (Maksimal); dan
6).Daur finansial atau Daur ekonomis.

·         Pengertian Riap
Riap adalah pertambahan diameter, bidang dasar (basal area), tinggi, volume, mutu, atau nilai suatu pohon atau tegakan selama jangka waktu tertentu. Riap kasar (gross increment) menunjukkan nilai yang belum dikurangi dengan suatu faktor yang disebabkan oleh mortalitas atau kemunduran mutu. Sedang riap netto adalah nilai yang diperoleh setelah pengurangan faktor tersebut. Di Indonesia, riap biasanya dinyatakan dalam m3/ha/tahun.
Riap merupakan tulang punggung ilmu manajemen hutan, yang bertujuan untuk menghasilkan kayu. Tanpa informasi tentang riap, suatu rencana pengelolaan hutan tidak lebih dari sekedar petunjuk untuk menghadapi pekerjaan-pekerjaan di lapangan, dan bukan merupakan suatu rencana yang harus dilaksanakan untuk mencapai tujuan pengelolaan.

·         Riap Individu Pohon
Untuk individu pohon akan dibahas riap diameter, riap tinggi, dan riap volume. Riap diameter biasanya diwakili oleh riap diameter stinggi dada. Riap diameter merupakan salah satu komponen yang penting dalam menentukan riap volume. Alat yang paling banyak dipakai untuk mengukur riap diameter adalah “bor riap”. Tetapi alat ini hanya efektif untuk mengukur riap pohon yang mempunyai lingkaran tahun yang jelas. Sebagian besar jenis pohon yang berasal dari hutan tropika basah tidak mempunyai lingkaran tahun yang nyata dan pembentukan lingkaran pertumbuhan tidak berkaitandengan siklus tahunan. Riap diameter tiap tahun dapat dikur dari lebar antara lingkaran tahun tertentu. Lingkaran tahun dapat dipakai juga untuk menghitung umur pohon.

Riap Tinggi juga mempunyai peranan dalam perhitungan ripa volume, terutama untuk tegakan yang masih muda.
·         Penentuan Riap Tinggi
Ada empat cara untuk menentukan riap tinggi, yaitu:
a)      Menaksir atau mengukur panjang ruas tahunan. Cara ini hanya dapat dipakai untuk spesies tertentu saja terutama spesies dari daerah temperate dan boreal.
b)      Analisis tinggi (height analysis) terhadap pohon yang ditebang. Dengan menghitung lingkaran tahun pada penampang lintang pohon untuk berbagai ketinggian, akan dapat diketahui pertambahan tinggi selama periode waktu tertentu. Cara ini dapat dilakukan untuk semua spesies yang mempunyai lingkaran tahun.
c)      Mengukur pertambahan tinggi pohon selama periode waktu tertentu. Pengukuran tinggi dapat menggunakan hypsometer. Cara ini dapat dilakukan untuk semua jenis pohon, tetapi memerlukan waktu yang lama untuk menunggu sampai pada pengukuran yang kedua.
d)      Menentukan riap tinggi dengan kurva tinggi. Kurva tinggi untuk semua spesies bergantung pada umur. Sampai umur tertentu, pohon sudah tidak lagi tumbuh meninggi, dan sejak itu volume pohon hanya dipengaruhi oleh riap diameter.
Riap volume pohon adalah pertambahan volume selama jangka waktu tertentu. Dalam teori, riap volume dapat ditentukan secara tepat dengan mengurangi volume pada akhir periode (B) dengan volume pohon tersebut pada awal peroide (A).

·         Study kasus
Penentuan Daur dan Riap Tegakan Gmelina
·         Daur
A.    Daur Biologis
Jumlah pohon per ha adalah 2.500 pohon atau dengan jarak tanam awal tegakan gmelina adalah 2 m x 2 m. Diketahui bahwa pertumbuhan tegakan gmelina di lokasi penelitian relatif rendah dengan MAI tertinggi adalah 9,77 m /tahun pada 3 tahun ke-7. Jenis hutan rakyat lain seperti jabon dapat mencapai MAI hingga 30 m (Indrajaya & 3 Siarudin, 2013) atau sengon yang dapat mencapai 60 m /tahun pada umur enam tahun pada kualitas 3 tempat tumbuh bagus (Krisnawati et al., 2011). Daur biologis tegakan gmelina di lokasi penelitian adalah delapan tahun yaitu ketika MAI = CAI. Karena pertumbuhannya relatif lebih lambat dibandingkan jenis hutan rakyat yang lain (sengon dan jabon), maka daur biologisnya pun menjadi relatif lebih panjang. Daur biologis tegakan sengon berkisar antara 5-7 tahun pada bonita empat hingga dua (Indrajaya, 2013), sedangkan daur biologis optimal jabon adalah lima tahun  (Indrajaya & Siarudin, 2013).

B. Daur Finansial
Penentuan daur finansial Faustmann meng- gunakan beberapa asumsi, yaitu: 1) pemanenan tegakan gmelina dilakukan secara tebang habis; 2) permudaan dilakukan pada tahun yang sama dengan penanaman melalui bibit; 3) tingkat harga, suku bunga riil dan pertumbuhan pohon telah diketahui dan tetap (Indrajaya & Siarudin, 2013). Berdasarkan wawancara dengan responden, harga kayu gmelina di tingkat petani adalah Rp 500.000/m dengan biaya pemanenan Rp 50.000/3 m . Biaya pembangunan hutan tanaman gmelina 3 adalah Rp 14.590.000 (Lampiran 1). Suku bunga riil dalam perhitungan adalah 4% (rata-rata suku bunga riil di Indonesia selama 10 tahun terakhir). Dengan menggunakan persamaan (8), hasil perhitungan memperoleh daur finansial optimal tegakan gmelina sebesar 10,5 tahun. Diketahui bahwa petani akan memperoleh hasil yang maksimal apabila menebang tegakan gmelinanya pada tahun ke-10,5 dibanding tahun ke-8 mengikuti daur biologisnya. Daur optimal finansial tegakan gmelina sedikit lebih panjang dibanding daur biologisnya, seperti halnya jenis sengon maupun jabon (Indrajaya, 2013;Indrajaya & Siarudin, 2013).

C. Analisis Sensitivitas
Analisis sensitivitas dilakukan untuk menguji seberapa sensitif hasil dari perhitungan daur Faustmann dipengaruhi oleh faktor eksogenus, yaitu faktor yang berada di luar model. Faktor- faktor di luar model dapat memengaruhi peubah (harga kayu, tingkat suku bunga, biaya pembuatan tanaman dan tingkat produksi kayu). Perubahan harga kayu gmelina yang digunakan dalam analisis sensitivitas adalah Rp 750.000 dan Rp 1.000.000. Hasil analisissensitivitas model terhadap harga kayu disajikan dalamGambar 3. Dari Gambar 3 diketahui bahwa daur financial Faustmann berbanding terbalik dengan peningkatan harga kayu gmelina. Peningkatan harga kayu gmelina akan memperpendek daur Faustmann; sebaliknya, penurunan harga kayu gmelina akan memperpanjang daur Faustmann.
Harga kayu yang semakin tinggi akan menyebabkan nilai sekarang menjadi lebih tinggi dan kemungkinan untuk mendapatkan keuntungan dari daur berikutnya menjadi lebih tinggi sehingga keputusan untuk mempercepat pemanenan kayumenjadi pilihan yang tepat.

·         Riap
A.    Kurva Pertumbuhan Asumsi
Kurva pertumbuhan asumsi adalah kurva yang dipakai sebagai dasar prediksi pertumbuhan dan riap Gmelina sebagaimana tertera dalam dokumen Studi Kelayakan yang telah disetujui oleh Departemen Kehutanan tahun 1996. Kurva pertumbuhan hasil studi kelayakan tersebut dinyatakan secara garis lengkung (curve) Selanjutnya kurva pertumbuhan hasil studi kelayakan tersebut disebut sebagai kurva A.
B.     Kurva Pertumbuhan Sebenarnya
Kurva pertumbuhan sebenarnya dibuat berdasarkan rekaman data pertumbuhan dan riap hasil pengamatan di PUP. Kurva pertumbuhan sebenarnya sebagai hasil pengukuran PUP dinyatakan secara garis dengan teknik yang sama dengan kurva A dan selanjutnya disebut kurva B.
C.     Analisis Pertumbuhan
Analisis data yang dipakai dalam penelitian adalah membandingkan kurva
pertumbuhan asumsi (kurva A) dengan kurva pertumbuhan sebenarnya (kurva B). Bila kurva A dan B ini berbeda maka daur yang ditetapkan dalam Studi Kelayakan tidak dapat dipakai. Untuk mengetahui kurva pertumbuhan asumsi dan kurva pertumbuhan sebenarnya berbeda atau tidak dilakukan analisa kelompok data dengan membandingkan hasil persamaan analisis regresi sebagaimana yang dikemukakan oleh Freese (1974).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar