Kamis, 25 April 2019

SUNGGUH KEJAM NEGERIKU INI ….




Kondisi perkampungan yang terletak di Jalan Padang, Medan Tembung pada tanggal 7 Maret 2018 terlihat rumah-rumah yang berjejer di kanan kiri rel kereta api. Ketika dilihat sekilas tiada arti dari sebuah bangunan yang dipandang orang awam hanyalah gubuk dan bagi mereka adalah sebuah istana. Sebuah istana dimana mereka yang masih bisa hidup dan menjalankan aktivitas sehari-hari. Walau keadaannya seperti yang kita lihat pada gambar, kondisi rumah dan lingkungannya sangat tidak nyaman. Sampah berserakan dimana-mana begitu juga dengan polusi yang dapat menyebabkan berbagai penyakit.
Keindahan dari suatu kota harusnya dilihat dari semua sudut perkotaan, apalah gunanya ketika di pusat kota megah nan asri tetapi di sudut kota sembaliknya. Pemerintah seharusnya lebih sering berjalan-jalan ke sudut-sudut kota dan meratapi nasib rakyatnya yang termasuk juga penerus bangsa ini. Pemerintah terlalu sibuk membuncitkan perut mereka sehingga lalai dalam hal seperti ini. Dampak dari kondisi perkampungan ini sangat mempengaruhi rakyat dan meningkatkan tingkat kemiskinan Negara, dan saya selalu bingung kenapa sampai detik ini orang yang berada diatas tidak pernah melihat kebawah dan selalu ingin melihat keatas.             
Sungguh miris Negeriku ini, sungguh kejam Indonesiaku ini.
Semoga pemerintah sadar bahwa masih banyak kehidupan yang harus diselamatkan agar negeri ini makmur dan lebih maju. Memberikan fasilitas dan menampung orang-orang yang tinggal di pinggiran akan lebih membantu dalam membangun negeri kita ini.
 “Tidak perlu Gold untuk tetap bersinar “ pepatah tersebut menyadarkan kita bahwa bukan kemewahan yang dapat melahirkan sebuah senyuman dan kehangatan tetapi bersyukur merasa cukup dan selalu melihat kebawah akan lebih membuat kita merasa semua yang kita miliki memang sudah ditakdirkan untuk kita miliki dan apa yang tidak kita miliki ditakdirkan untuk tidak kita miliki.


ISOLASI JAMUR DAN PDA



                Jamur atau fungi terdiri dari kapang dan khamir. Jamur adalah organisme heterotrofik, mereka memerlukan senyawa organic untuk nutrisinya. Bila mereka hidup dari benda organic mati yang terlarut mereka disebut saprofit. Jamur mempunyai dinding sel yang kaku dan berbentuk uniseluler atau multiseluler sebagian mempunyai ukuran yang mikroskopis sedangkan yang lainnya mempunyai ukuran yang cukup besar seperti jamur merang. Jamur tidak mengandung klorofil sehingga tidak berfotosintesis. Fungi tidak menelan makanannya tetapi harus berupa nutrient yang larut agar dapat diabsorpsi. Fungi yang multiseluler menghasilkan filament yaitu struktur mikroskopis seperti benang yang disebut hifa. Kumpulan hifa disebut miselium, fungi uniseluler yang terkenal adalah ragi dengan berbagai bentuk seperti bulat hingga oval, elips hingga ke bentuk filament. Jamur sudah tidak asing lagi bila kita lihat misalnya warna biru dan hijau pada buah jeruk dan keju warna putih seperti bulu pada roti, jamur di lapangan.
            Jamur adalah organisme eukariotik (mempunyai inti sel) tidak mempunyai klorofil, mempunyai spora, struktur somatic atau talus berupa sel tunggal (uniseluler) dan umumnya berupa filament atau benang-benang bercabang (multiseluler), berkembangbiak secara seksual dan aseksual, dinding sel umumnya terdiri dari kitin dan selulosa atau keduanya. Jamur merupakan organisme yang tidak mempunyai klorofil sehingga ia tidak mampu untuk memproduksi makan sendiri karena jamur tidak bisa memanfaatkan karbondioksida sebagai sumber karbonnya. Karbon berasal dari sumber anorganik misalnya glukosa. Oleh karena itu jamur memerlukan senyawa organic baik dari bahan organic mati maupun dari organisme hidup sehingga jamur dikatakan heterotroph. Jamur ini ada yang hidup dan memperoleh makanan dari organisme hidup da nada pula yang memperoleh makanan dari bahan organic mati seperti sisa-sisa hewan atau tumbuhan. Jamur hidup dan memperoleh makanan dari bahan organic mati dinamakan saprofit, sedangkan yang hidup dan memperoleh makanan dari organisme hidup dinamakan parasite. Beberapa spesies dapat menggunakan nitrogen, itulah sebabnya mengapa medium biakan untuk jamur biasanya berupa pepton, suatu produk protein yang terhidrolisis (Kusnadi, 2003).
            Sifat kultural dari jamur dapat dilihat dengan kenampakan pertumbuhannya pada makanan. Pada permukaan bahan makanan tampak kering, membentuk massa serbuk, kadang-kadang halus dan lunak atau kelihatan basah dan berair. Warna miselia hijau biru, biru kehijauan, kuning, orange, merah muda, coklat, abu-abu, dan hitam (Kusnadi, 2003).
Klasifikasi jamur terutama didasarkan pada ciri-ciri spora seksual dan tubuh buah yang ada selama tahap-tahap seksual. Jamur mampu memanfaatkan berbagai macam bahan untuk gizinya, sekalipun demikian mereka itu heterotroph. Berbeda dengan bakteri, mereka tidak dapat menggunakan senyawa karbon anorganik, seperti karbondioksida. Karbon berasal dari sumber organic, misalnya glukosa. Beberapa spesies dapat menggunakan nitogen, itulah sebabnya mengapa medium biakan untuk cendawan biasanya berisikan pepton, suatu produk protein yang terhidrolisis (Kusnadi, 2003).
Pada penentuan populasi jamur tanah, udara, dan roti media agar yang digunakan adalah PDAnyang telah diberi antibiotic. Prinsip dari isolasi jamur adalah PDA yang telah diberi antibiotic. Prinsip dari isolasi jamur adalah memisahkan atau menumbuhkan suatu jenis jamur dengan jamur lain yang berasal dari campuran bermacam-macam jamur. Hal ini dapat dilakukan dengan menumbuhkannya dalam media padat, karena dalam media padat jamur akan membentuk suatu koloni yang tetap pada tempatnya. Media yang digunakan dalam isolasi ini harus sesuai dengan mikroorganisme yang akan kita ketahui populasinya. Karena kalau tidak sesuai agarnya maka mikroorganisme tidak akan tumbuh.
Kita mengisolasijamur pada udara, roti dan tanah dengan meremas-remas roti dan tanah. Tujuannya agar pada saat ketiganya dimasukkan ke media PDA, jamur dapat tumbuh dan bisa berkembang dalam waktu yang cukup lama agar nantinya kita dapat mengamati perkembangan jamur tersebut. Media PDA yang berisikan jamur itu akan diletakkan di sembarang tempat besar kemungkinan jamur tersebut akan terganggu perkembangbiakannya dan akan terkontaminasi dengan udara, serta tidak steril, dengan begitu makankeberhasilan yang akan didapatkan akan kecil. Maka dari itu pada incubator jamur akan diletakkan dengan suhu yang pas yang telah disesuaikan untuk perkembangan jamur tersebut.
Banyak jamur yang sudah dikenal perannannya yaitu jamur yang tumbuh di roti , buah, keju, ragi, dalam pembuatan bird an dapat merusak tekstil yng lembab. Beberapa jenis memproduksi antibiotic yag digunakan dalam terapi berbagai infeksi bakteri. Diantanya semua organisme jamur adalah organisme yang paling banyak menghasilkan enzim yang bersifat degradatif yang menyerang secara langsung seluruh material organic. Adanya enzim yang bersifat degradatif ini menjadikan jamur bagian yang sangat penting dalam mendaur ulang sampah alam, dan sebagai decomposer dalam siklus biogeokimia (Hadioetomo, 1993).
Semua unsur kimia di alam akan beredar melalui jalur tertentu dari lingkungan ke organisme atau makluk hidup dan kembali lagi ke lingkungan. Semua bahan kimia dapat beredar berulang-ulang melewati ekosistem secara tak terbatas. Jika suatu organisme itu mati maka bahan organic yang terdapat pada tubuh organisme tersebut akan dirombak menjadi komponen abiotic dan dikembalikan lagi ke dalam lingkungan. Peredaran bahan abiotic dari lingkungan melalui komponen biotik dan kembali lagi ke lingkungan dikenal sebagai siklus biogeokimia  (Kusnadi, 2003).
Isolasi jamur dapat dilaksanakan dengan menggunakan media PDA . jamur yang diisolasi adalah jamur yang ada dalam roti, udara, dan tnah. Pada jamur yang ada di udara dideteksi bahwa merupakan jamur rhizophus. Pada roti terdeteksi jamur rhizhopus, torula dan aspergilus. Pada tanah terdeteksi jamur penicillium, clodosporrium, rhizhopus, dan fusarium. Teknik isolasi jamur harus dilakukan secara aseptic agar tidak terkontaminasi mikroba. Dapat juga digunakan antimikrobia pada media.

DAUR DAN RIAP TEGAKAN


·         Pengertian Daur
Daur ialah jangka pembentukan kayu dan waktu yang diperlukan untuk sehingga pohon tersebut dapat ditebang. Daur merupakan factor pertama yang mempengaruhi hasil. Pada kondisi system tebang habis penentuan daur dapat secara tepat dan waktu yang jelas. Sedangkan pada system yang lain seperti tebang pilih daur biasanya disebut dengan istilah siklus tebang, dalam hal ini merupakan umur rata-rata dari pohon yang telah mencapai suatu diameter tertentu bagi suatu objek manajemen (Jerram, 1935)

·         Faktor - faktor yang mempengaruhi Daur
Ada 2 faktor yang mempengaruhi daur yaitu faktor fisik dan faktor finansial. Yang pertama ialah produk apa yang diinginkan atau dapat dijual dengan baik (dalam kaitan pemasaran atau permintaan), dan yang kedua tentang produktivitas hutan, atau apa yang dapat ditumbuhkan (penawaran). Secara jelas memang masalah biaya dan pendapatan juga masuk dalam kedua faktor tersebut. Kedua faktor tersebut harus diintegrasikan dan penentuan daur berkaitan dengan tujuan manajemen. Walaupun memang pada akhirnya penentuan final tentang daur merupakan keputusan politik/ kebijakan. Faktor Phisik Yang meliputi nilai produk dan factor hutannya itu sendiri. Dalam hal ini nilai produk dapat dikatakan bahwa karena tujuan budidaya hutan ialah untuk memanfaatkan kayu, jadi ukuran dan kualitas dari kayu merupakan hal yang sangat penting dalam menentukan panjang daur. Apakah produknya untuk kayu bakar, kayu pulp, atau kayu pertukangan. Penggunaan kayu untuk kayu pertukangan jelas membutuhkan ukuran tertentu, misalnya minimal kayu harus mempunyai diameter sebesar 35 cm. Maka untuk ini, daur ditentukan berapa lama jenis pohon tersebut pada tempat tumbuh tertentu dapat mencapai diameter tersebut. Demikian juga bila pohon yang akan kita tanam merupakan jenis yang akan dimanfaatkan untuk kayu pulp, maka diameter minimal untuk kayu pulp itu berapa? Jadi disini tujuan manajemen dalam menanam pohon perlu diperhatikan. Pada manajemen hutan seumur, panjangnya daur harus ditentukan untuk jenis pohon utama, sedang jenis pohon yang lain mengikuti bagaimana baiknya.

·         Macam-macam Daur
Beberapa macam daur dalam hal ini dikenal adanya :
1).Daur fisik;
2).Daur Silvikultur;
3).Daur tekhnik;
4).daur volume produksi maksimal;
5).Daur pendapatan tertinggi (Maksimal); dan
6).Daur finansial atau Daur ekonomis.

·         Pengertian Riap
Riap adalah pertambahan diameter, bidang dasar (basal area), tinggi, volume, mutu, atau nilai suatu pohon atau tegakan selama jangka waktu tertentu. Riap kasar (gross increment) menunjukkan nilai yang belum dikurangi dengan suatu faktor yang disebabkan oleh mortalitas atau kemunduran mutu. Sedang riap netto adalah nilai yang diperoleh setelah pengurangan faktor tersebut. Di Indonesia, riap biasanya dinyatakan dalam m3/ha/tahun.
Riap merupakan tulang punggung ilmu manajemen hutan, yang bertujuan untuk menghasilkan kayu. Tanpa informasi tentang riap, suatu rencana pengelolaan hutan tidak lebih dari sekedar petunjuk untuk menghadapi pekerjaan-pekerjaan di lapangan, dan bukan merupakan suatu rencana yang harus dilaksanakan untuk mencapai tujuan pengelolaan.

·         Riap Individu Pohon
Untuk individu pohon akan dibahas riap diameter, riap tinggi, dan riap volume. Riap diameter biasanya diwakili oleh riap diameter stinggi dada. Riap diameter merupakan salah satu komponen yang penting dalam menentukan riap volume. Alat yang paling banyak dipakai untuk mengukur riap diameter adalah “bor riap”. Tetapi alat ini hanya efektif untuk mengukur riap pohon yang mempunyai lingkaran tahun yang jelas. Sebagian besar jenis pohon yang berasal dari hutan tropika basah tidak mempunyai lingkaran tahun yang nyata dan pembentukan lingkaran pertumbuhan tidak berkaitandengan siklus tahunan. Riap diameter tiap tahun dapat dikur dari lebar antara lingkaran tahun tertentu. Lingkaran tahun dapat dipakai juga untuk menghitung umur pohon.

Riap Tinggi juga mempunyai peranan dalam perhitungan ripa volume, terutama untuk tegakan yang masih muda.
·         Penentuan Riap Tinggi
Ada empat cara untuk menentukan riap tinggi, yaitu:
a)      Menaksir atau mengukur panjang ruas tahunan. Cara ini hanya dapat dipakai untuk spesies tertentu saja terutama spesies dari daerah temperate dan boreal.
b)      Analisis tinggi (height analysis) terhadap pohon yang ditebang. Dengan menghitung lingkaran tahun pada penampang lintang pohon untuk berbagai ketinggian, akan dapat diketahui pertambahan tinggi selama periode waktu tertentu. Cara ini dapat dilakukan untuk semua spesies yang mempunyai lingkaran tahun.
c)      Mengukur pertambahan tinggi pohon selama periode waktu tertentu. Pengukuran tinggi dapat menggunakan hypsometer. Cara ini dapat dilakukan untuk semua jenis pohon, tetapi memerlukan waktu yang lama untuk menunggu sampai pada pengukuran yang kedua.
d)      Menentukan riap tinggi dengan kurva tinggi. Kurva tinggi untuk semua spesies bergantung pada umur. Sampai umur tertentu, pohon sudah tidak lagi tumbuh meninggi, dan sejak itu volume pohon hanya dipengaruhi oleh riap diameter.
Riap volume pohon adalah pertambahan volume selama jangka waktu tertentu. Dalam teori, riap volume dapat ditentukan secara tepat dengan mengurangi volume pada akhir periode (B) dengan volume pohon tersebut pada awal peroide (A).

·         Study kasus
Penentuan Daur dan Riap Tegakan Gmelina
·         Daur
A.    Daur Biologis
Jumlah pohon per ha adalah 2.500 pohon atau dengan jarak tanam awal tegakan gmelina adalah 2 m x 2 m. Diketahui bahwa pertumbuhan tegakan gmelina di lokasi penelitian relatif rendah dengan MAI tertinggi adalah 9,77 m /tahun pada 3 tahun ke-7. Jenis hutan rakyat lain seperti jabon dapat mencapai MAI hingga 30 m (Indrajaya & 3 Siarudin, 2013) atau sengon yang dapat mencapai 60 m /tahun pada umur enam tahun pada kualitas 3 tempat tumbuh bagus (Krisnawati et al., 2011). Daur biologis tegakan gmelina di lokasi penelitian adalah delapan tahun yaitu ketika MAI = CAI. Karena pertumbuhannya relatif lebih lambat dibandingkan jenis hutan rakyat yang lain (sengon dan jabon), maka daur biologisnya pun menjadi relatif lebih panjang. Daur biologis tegakan sengon berkisar antara 5-7 tahun pada bonita empat hingga dua (Indrajaya, 2013), sedangkan daur biologis optimal jabon adalah lima tahun  (Indrajaya & Siarudin, 2013).

B. Daur Finansial
Penentuan daur finansial Faustmann meng- gunakan beberapa asumsi, yaitu: 1) pemanenan tegakan gmelina dilakukan secara tebang habis; 2) permudaan dilakukan pada tahun yang sama dengan penanaman melalui bibit; 3) tingkat harga, suku bunga riil dan pertumbuhan pohon telah diketahui dan tetap (Indrajaya & Siarudin, 2013). Berdasarkan wawancara dengan responden, harga kayu gmelina di tingkat petani adalah Rp 500.000/m dengan biaya pemanenan Rp 50.000/3 m . Biaya pembangunan hutan tanaman gmelina 3 adalah Rp 14.590.000 (Lampiran 1). Suku bunga riil dalam perhitungan adalah 4% (rata-rata suku bunga riil di Indonesia selama 10 tahun terakhir). Dengan menggunakan persamaan (8), hasil perhitungan memperoleh daur finansial optimal tegakan gmelina sebesar 10,5 tahun. Diketahui bahwa petani akan memperoleh hasil yang maksimal apabila menebang tegakan gmelinanya pada tahun ke-10,5 dibanding tahun ke-8 mengikuti daur biologisnya. Daur optimal finansial tegakan gmelina sedikit lebih panjang dibanding daur biologisnya, seperti halnya jenis sengon maupun jabon (Indrajaya, 2013;Indrajaya & Siarudin, 2013).

C. Analisis Sensitivitas
Analisis sensitivitas dilakukan untuk menguji seberapa sensitif hasil dari perhitungan daur Faustmann dipengaruhi oleh faktor eksogenus, yaitu faktor yang berada di luar model. Faktor- faktor di luar model dapat memengaruhi peubah (harga kayu, tingkat suku bunga, biaya pembuatan tanaman dan tingkat produksi kayu). Perubahan harga kayu gmelina yang digunakan dalam analisis sensitivitas adalah Rp 750.000 dan Rp 1.000.000. Hasil analisissensitivitas model terhadap harga kayu disajikan dalamGambar 3. Dari Gambar 3 diketahui bahwa daur financial Faustmann berbanding terbalik dengan peningkatan harga kayu gmelina. Peningkatan harga kayu gmelina akan memperpendek daur Faustmann; sebaliknya, penurunan harga kayu gmelina akan memperpanjang daur Faustmann.
Harga kayu yang semakin tinggi akan menyebabkan nilai sekarang menjadi lebih tinggi dan kemungkinan untuk mendapatkan keuntungan dari daur berikutnya menjadi lebih tinggi sehingga keputusan untuk mempercepat pemanenan kayumenjadi pilihan yang tepat.

·         Riap
A.    Kurva Pertumbuhan Asumsi
Kurva pertumbuhan asumsi adalah kurva yang dipakai sebagai dasar prediksi pertumbuhan dan riap Gmelina sebagaimana tertera dalam dokumen Studi Kelayakan yang telah disetujui oleh Departemen Kehutanan tahun 1996. Kurva pertumbuhan hasil studi kelayakan tersebut dinyatakan secara garis lengkung (curve) Selanjutnya kurva pertumbuhan hasil studi kelayakan tersebut disebut sebagai kurva A.
B.     Kurva Pertumbuhan Sebenarnya
Kurva pertumbuhan sebenarnya dibuat berdasarkan rekaman data pertumbuhan dan riap hasil pengamatan di PUP. Kurva pertumbuhan sebenarnya sebagai hasil pengukuran PUP dinyatakan secara garis dengan teknik yang sama dengan kurva A dan selanjutnya disebut kurva B.
C.     Analisis Pertumbuhan
Analisis data yang dipakai dalam penelitian adalah membandingkan kurva
pertumbuhan asumsi (kurva A) dengan kurva pertumbuhan sebenarnya (kurva B). Bila kurva A dan B ini berbeda maka daur yang ditetapkan dalam Studi Kelayakan tidak dapat dipakai. Untuk mengetahui kurva pertumbuhan asumsi dan kurva pertumbuhan sebenarnya berbeda atau tidak dilakukan analisa kelompok data dengan membandingkan hasil persamaan analisis regresi sebagaimana yang dikemukakan oleh Freese (1974).

Rabu, 02 Mei 2018

PT PABRIK KERTAS TJIWI KIMIA, Tbk

TUGAS MATA KULIAH BISNIS KEHUTAN
LUMONGGA MASNIARI LUBIS
151201004
NAMA DOSEN : Dr. Agus Purwoko
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


A. Gambaran Umum
            PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk merupakan salah satu perusahaan manufaktur kertas dan hasil-hasil produksi kertas (stationery) terbesar didunia yang terintegrasi secara vertikal. Perusahaan selanjutnya merupakan salah satu usaha penting di Jepang, Australia, Timur Tengah, Amerika Serikat, Eropa dan Negara Asia lainnya. Perusahaan berlokasi ditempat strategis di wilayah Asia Pasifik, dan dikenal dengan produk kertas berkualitas tinggi, memperkerjakan secara langsung sekitar 13,100 karyawan. Selanjutnya, perusahaan memiliki komitmen untuk menerapkan prinsip usaha berkelanjutan (sustainablility) di setiap kegiatan operasionalnya.
            PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (“Tjiwi Kimia” atau “Perseroan”) didirikan pada tanggal 2 Oktober 1972 dengan nama PT. Tjiwi Kimia, berkedudukan di Desa Kramat Tumenggung, kecamatan Tarik, Sidoarjo, Jawa Timur. Kemudian pada tahun 1974, dari Perseroan diubah menjadi PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia dan pada tahun 1996 menjadi PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia tbk. Pada tahun 1990, saham Perseroan mulai dicatatkan di Bursa efek Jakarta dan Surabaya. Pada awal berdirinya, Perseroan hanya memproduksi soda dan bahan kimia lainnya dan sejak tahun 1978, Perseroan mulai memproduksi kertas dengan kapasitas 12.000 ton per tahun. Kegiatan utama Perseroan adalah memproduksi berbagai jenis kertas tulis dan cetak, baik coated maupun uncoated. Selain itu, Perseroan juga memproduksi kertas dan produk perlengkapan kantor seperti buku tulis, memo, loose leaf, spiral, amplop, kertas komputer, kertas kado, shopping bag, dan produk fancy yang diminati pasar internasional. Sesuai dengan permintaan pasar, Perseroan memproduksi kertas yang memiliki nilai tambah termasuk kertas tanpa karbon dan kertas cast coated dan board.
Produk loose leaf Paperline di Tjiwi Kimia merupakan produk minor dari perusahaan,sehingga loose leaf tidak memiliki strategi pemasaran yang khusus. Adapun strategi pemasaran yang berlaku untuk loose leaf adalah menggabungkan (bundled) dengan major produk perusahaan yaitu buku tulis, kertas fotokopi dan memo pad. Oleh karena itu dalam rangka meningkatkan market share loose leaf dan menjadikan loose leaf sebagai salah satu major produk perusahaan, untuk itu harus ada suatu strategi yang dirancang tepat pada sasaran yang dituju dan juga dibutuhkan suatu analisa ataupun kajian dari strategi yang telah dijalanakan secara bertahap guna mencapai hasil yang maksimal.

B. Kisi-Kisi Keberhasilan
Visi
Visi perusahaan adalah menjadi produksi kertas berkualitas tinggi nomor satu didunia dengan standard internasional pada abad ke-21 yang berkomitmen tinggi untuk memberikan yang terbaik bagi para pelanggan, pemegang saham, karyawan, dan masyarakat.

Misi
Misi dari perusahaan antara lain adalah meningkatkan pangsa pasar di seluruh dunia, menggunakan teknologi mutakhir dalam mengembangkan produk baru, meningkatkan sumber daya manusia melalui pelatihan, dan mewujudkan komitmen usaha berkelanjutan disemua kegiatan operasional.

Tujuan Perusahaan
Memperluas daerah perusahaan serta meningkatkan volume penjualan sehingga keuntungan perusahaan meningkat.





Strategi Yang digunakan Perusahaan:

1. Strategi Komunikasi Marketing Stationary PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia
       Pabrik Kertas PT. Tjiwi Kimia yang merupakan produsen dan penyuplai kertas terbesar di Asia Tenggara juga menghasilkan dan menerapkan seluruh potensi- potens yang ada. Melalui berbagai perkembangan dan inovasi dari tahun ke tahun Tjiwi Kimia berubah menjadi perusahaan produsen kertas terbesar di Asia Tenggara dengan market lebih dari 100 negara di dunia dan di 5 benua. Dengan kategori Middle East, Afrika, USA, Jepang dan Eropa.
           Bagi konsumen Amerika Serikat Produk Stationary yag berasal dari Tjiwi Kimia merupakan produk dengan mutu dan kualitas yang bagus serta harga yang relatif murah. itulah image yang ada dibenak konsumen, sangatlah sulit menciptakan citra positif di pangsa pasar Amerika Serikat, apalagi dengan tujuan untuk menambah daya jual di negeri Paman Sam. Srategi Komunikasi Interpersonal ang digunakan oleh divisi marketing Stationery selama ini bisa dikatakan berhasil menciptakan citra positif baik terhadap produk maupun perusahaan dengan memperhatikan simbol bahasa dan gesture. Simbol bahasa dan gesture merupakan hal yang sangat penting karena adanya perbedaan budaya antara masyarakat Indonesia dan Amerika dalam berinteraksi. Penggunaan televisi sebagai media iklan dipandang sangat efektif dalam membentuk citra positif karena sifatnya yang memadukan teknologi audio visual membuat tayangan iklan lebih menarik dan dapat menjangkau semua lapisan masyarakat.

Analisis SWOT PT. Pabrik Kertas TJIWI KIMIA, Tbk

Kuesioner Internal Factor Analysis Strategi Untuk Mengetahui Kekuatan (Strength)
Faktor Strategi
Niai
Bobot
Rating
Skor
Brand yang sudah dikenal
3
0,3
3
0,9
Memiliki anak perusahaan yang khusus menangani pendistribusiaan produk
3
0,3
2
0,6
Memiliki fasilitas manufaktur kertas sendiri
4
0,4
4
1,6
TOTAL
10
1
9
3,1
Ukuran pembobotan :                        Ukuran Rating Kekuatan:
1 = Sedikit peluang                           1= Sedikit Kuat
2 = Agak peluang                              2= Agak Kuat
3 = Peluang                                       3= Kuat
4 = Sangat berpeluang                       4= Sangat Kuat

Kuesioner Internal Factor Analysis Strategi Untuk Mengetahui Kelemahan (Weakness)
Faktor Strategi
Niai
Bobot
Rating
Skor
Minor produk
3
0,5
3
1,5
Kurang kegiatan promosi
3
0,5
2
1
TOTAL
6
1
5
2,5

Ukuran pembobotan :                        Ukuran Rating Kelemahan:
1 = Sedikit peluang                             -1= Sedikit Lemah
2 = Agak peluang                                -2= Agak Lemah
3 = Peluang                                         -3= Lemah
4 = Sangat berpeluang                        -4= Sangat Lemah

Kuesioner Eksternal Factor Analysis Strategi Untuk Mengetahui Peluang (Opportunity)
Faktor Strategi
Niai
Bobot
Rating
Skor
Kebutuhan akan kertas akan selalu ada.
4
0,31
3
0,93
Tidak ada batasan usia dalam penggunaan loose leaf
3
0,23
2
0,46
Tersedia 60% pasar yang belum terjamah
3
0,23
3
0,69
Perkembangan dan kemajuan teknologi yang dapat meningkatkan Branding
3
0,23
3
0,69
TOTAL
13
1
11
2,77
Ukuran pembobotan :                        Ukuran Rating Peluang:
1 = Sedikit peluang                             1= Sedikit Berpeluang
2 = Agak peluang                                2= Agak Berpeluang
3 = Peluang                                        3= Berpeluang
4 = Sangat berpeluang                       4= Sangat Berpeluang

Kuesioner Eksternal Factor Analysis Strategi Untuk Mengetahui Ancaman (Threath)

Faktor Strategi
Niai
Bobot
Rating
Skor
Banyaknya pesaing dalam produk sejenis
4
0,31
3
0,93
Banyaknya substitusi produk
3
0,23
2
0,46
Isu terhadap lingkungan
3
0,23
3
0,69
Adanya privat label Di Modern Market
3
0,23
2
0,46
TOTAL
13
1
10
2,54





Ukuran pembobotan :                        Ukuran Rating Ancaman:
1 = Sedikit peluang                             -1= Sedikit Mengancam
2 = Agak peluang                                -2= Agak Mengancam
3 = Peluang                                        -3= Mengancam
4 = Sangat berpeluang                       -4= Sangat Mengancam

Analisis Matrik SWOT
Berdasarkan hasil-hasil yang didapat dari analisis internal dan eksternal pada Tabel seperti dituliskan di atas,  hasilnya dapat  dirangkum  sebagai berikut:
1. Skor Total Kekuatan    = 3,1
2. Skor Total Kelemahan  = -2,5
3. Skor Total Peluang      = 2,77
4. Skor Total Ancaman    = -2,54

Dari hasil perhitungan di atas, di dalam perhitungan strateginya  memerlukan penegasan dari adanya posisi dalam salib sumbu yaitu antara kekuatan dan kelemahan, maupun peluang dan ancaman yang kesemuanya digambarkan dalam garis-garis positif dan negatif. Hal ini mengakibatkan, skor total kekuatan tetap 3,1, skor total kelemahan menjadi –2,5 sedangkan skor total peluang 2,77 dan skor total  ancaman menjadi –2,54
Dari analisis tersebut di atas bahwasanya faktor kekuatan lebih besar dari faktor kelemahan dan pengaruh dari faktor peluang juga lebih besar dari faktor ancaman. Oleh karena itu posisi PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia, Tbk berada pada kwadran 1 yang berarti pada  posisi PERTUMBUHAN, dimana hal ini menunjukkan kondisi intern PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia, Tbk  yang KUAT, dengan lingkungan  yang  sedikit MENGANCAM.
Untuk mencari koordinatnya, dapat dicari dengan cara sebagai berikut:
Koordinat Analisis Internal:
(Skor Total Kekuatan – Skor Total Kelemahan) : 2 = (3,1-2,5): 2= 0,3
Koordinat Analisis Eksternal:
(Skor Total Peluang – Skor Total Ancaman) : 2 = (2,77-2,54): 2 = 0,23
Jadi: titik koordinatnya terletak pada (0,3 : 0,23)

Setelah diketahui titik pertemuan diagonal-diagonal tersebut (X), maka posisi unit usaha diketahui pada kuadran I. Hasil perhitungan dari masing-masing kuadran dapat digambarkan pada tabel berikut ini
Kuadran
Posisi Titik
Luas Matrik
Ranking
Prioritas Strategi
I
(3,1 : 2,77)
8,6
1
Growth
II
(2,5 : 2,77)
6,9
2
Combinasi
III
(2,5 : 2,54)
6,35
4
Penciutan
IV
(3,1 : 2,54)
6,5
3
Stabilitas
*Pada kuadran I ( S O Strategi ) strategi umum yang dapat dilakukan oleh perusahaan adalah menggunakan kekuatan perusahaan untuk mengambil setiap keunggulan pada kesempatan yang ada.
1. Menekan biaya cost production serendah-rendahnya sehingga mendapatkan margin sebesar mungkin.
2.Memperluas distribusi yang merata ke seluruh lini pasar.
3. Paperline bekerjasama dengan produsen binder file (hasil reasearch: karena sudah mempunyai binder maka pelanggan membeli kertas file lagi).
* Pada kuadran II ( W O Strategi ) perusahaan dapat membuat keunggulan pada kesempatan sebagi acuan untuk memfokuskan kegiatan dengan menghindari kelemahan.
1. Melakukan kegiatan promosi (memberikan produk secara Cuma-Cuma untuk pembelian jumlah tertentu)
2.Berpartisipasi dalam kegiatan pendidikan (perlombaan cerdas cermat).
* Pada kuadran III ( W T Strategi ) Meminimumkan segala kelemahan untuk menghadapi setiap ancaman.
1. Memperkuat brand awareness paperline.
2. Memperbanyak variant produk (berwarna, bergambar, jumlah sheet).
* Pada kuadran IV ( S T Strategi ) Menjadikan setiap kekuatan untuk menghadapi setiap ancaman dengan menciptakan diversifikasi untuk menciptakan peluang
1. Mempunyai tampilan produk yang eye-catching
2. Mempunyai hutan industri sendiri.
3. Memiliki R&D yang kuat dalam proses produksi kertas.
4. Membuat Point of Purchase yang menarik pada Moderen Market.

Analisa Porter 5 Force
Analisa strategi kompetitif Porter dilakukan untuk menentukan dan menganlisa suatu industri sebagai suatu kesatuan dan untuk memperkirakan masa depan industrinya. Analisa dilakukan terdiri dari lima faktor utama, yaitu ancaman para pendatang baru, ancaman dari produk pengganti, ancaman dari pesaing, kekuatan tawar menawar pemasok, dan kekuatan tawar menawar pembeli.
Ancaman Para Pendatang Baru
Pada saat ini, sudah terdapat pemain di industri kertas (Loose Leaf), tetapi tidak tertutup kemungkinan munculnya pendatang-pendatang baru seperti Imperial, President dan TGA.
Pemain baru dalam industri ini merupakan salah satu ancaman yang serius bagi perusahaan, dan tingkat ancamannya cukup tinggi. Hal ini disebabkan karena kertas merupakan barang komoditi yang dengan mudahnya dapat ditiru dan pesatnya kemajuan teknologi yang mempermudah untuk membuat produk dengan kualitas yang setara ataupun yang lebih baik. Demikian pula jika produk tersebut ditunjang dengan harga yang cukup bersaing, tentu saja dapat menjadi ancaman yang mampu mengambil market share Paperline.

Ancaman Dari Produk Pengganti
Paperline merupakan produk yang praktis namun juga memiliki kekurangan dalam penggunaanya yang memungkinkan pemakai kehilangan kertas loose leaf yang merupakan sutau kertas lepasan. Dibandingkan dari produk penggantinya seperti Buku Tulis, Memo Pad, Agenda dan Laptop yang tidak terlepas dari tempatnya. Hal ini menyebabkan ancaman dari produk pengganti tinggi.
Ancaman Dari Pesaing
Ancaman dari pesaing merupakan suatu jal yang patut diwaspadai oleh perusahaan, dimana kita dapat lihat bahwa tingkat persaingan pada industri ini cukup tinggi. Tingkat persaingan yang cukup tinggi ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:
• Meningkatnya jumlah pelajar
Peningkatan jumlah pelajar setiap tahunnya membuat banyaknya kebutuhan akan kertas dalam catat mencatat yang sebagai kebutuhan dasar pelajar semakin meningkat. Sekarang ini kebutuhan pelajar dalam kegiatan pencatatnya tergantung pada kemudahan dalam penggunaannya, dan mudah didapatnya produk yang digunakan tersebut.
• Meningkatnya jumlah pemain di industri Loose Leaf
Jumlah pemain yang semakin meningkat menyebabkan konsumen memiliki lebih banyak pilihan dalam memilih produk loose leaf, serta varian produk yang bermacam-macam dengan harga yang kompetitif.
• Meningkatnya ilmu pengetahuan dan teknologi
Dengan semakin majunya ilmu pengetahuan dan teknologi, maka penemuanpenemuan baru yang dapat membuat kualitas produk semakin meningkat akan lebih cepat ditemukan. Apabila perusahaan tidak berkembang seiring dengan kemajuan teknogi, maka perusahaan dapat tertinggal oleh pesaingnya dari segi teknologi, dan dikhawartikan kualitas produk perusahaan juga tertinggal. Tingkat persaingan yang semakin meningkat ini menngakibatkan tingkat ancaman dari pesaing cukup tinggi.
Kekuatan Tawar Menawar Produk
Produk Paperline yang beredar di Indonesia merupakan produk lokal dalam negeri, dimana produksi Paperline dilakukan di Surabaya Jawa Timur. Produksi Paperline dilakukan secara integrasi vertikal, dimana proses dari Row Material sampai Barang Jadi dilakukan oleh PT Tjiwi Kimia, begitu pula dalam hal pendistribusian produk dilakukan oleh PT CMI yang juga merupakan anak perusahaan dari Sinar Mas Grup. Tidak adanya ancaman dari kekuatan tawar menawar pemasok merupakan suatu keunggulan untuk Paperline.
Kekuatan Tawar Menawar Pembeli
Banyaknya pemain pada industri ini yang memiliki kualitas yang serupa dan mempunyai harga yang cukup bersaing, tetapi pembelian Loose Leaf tidak dipengaruhi oleh keberadaaan suatu Brand tertentu dan ini menyebabkan end-user memilih Brand mana saja yang tersedia di toko. Dimana 78% responden menjawab bahwa mereka akan membeli Brand yang tersedia. Hal ini disebabkan karena Loose Leaf merupakan barang komoditi dan tidak adanya loyalitas produk dalam penggunaannya. Sehingga dapat disimpulkan tingkat kekuatan tawar menawar pembeli tinggi. Berdasarkan analisa-analisa diatas, maka diambil suatu analisa gabungan terhadap analisa kuestioner, analisa SWOT dan analisa Porter 5 Force adalah sebagai berikut. Kebutuhan akan tulis menulis selalu terkait dengan kertas. Produk loose leaf Paperline merupakan salah satu produk kertas yang sudah dikenal dan banyak digunakan oleh kalangan pelajar. Penggunaan loose leaf oleh kalangan pelajar dipakai sebagai alat catat mencatat yang pemakaiannya didominasi oleh pelajar S1. Pembelian kembali loose leaf terutama pada saat kehabisan dan frekuensi pembeliannya pada jangka waktu diatas 10 minggu. Dengan alasan-alasan tersebut diatas, keberadaan loose leaf terbilang masih mempunyai tempat di pasar dan prospeknya akan terus berkembang. Meningkatnya penggunaan loose leaf disebabkan pula karena penggunanya yang luas, tidak ada batasan usia dan jenis kelamin dalam pemakaian produknya. Dan banyak kompetitor baru yang bermunculan membuktikan bahwa pasar Loose Leaf masih diminati. Selain penjelasan keberadaan loose leaf diatas, penulis juga ingin menjabarkan faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan loose leaf oleh pelajar dan mahasiswa. Dengan melihat seseorang memakai/ menggunakan loose leaf, menjadikan salah satu motif seseorang (dalam hal ini: pelajar dan mahasiswa) untuk menggunakan produk loose leaf, rekomendasi dari orang lain juga memiliki andil dalam penggunaan Loose Leaf, hal ini sesuai dengan faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi perilaku konsumen, salah satunya adalah kelompok acuan yaitu kelompok yang mempunyai pengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap sikap dan perilaku seseorang. Beberapa diantaranya adalah kelompok-kelompok primer seperti keluarga, teman, dan tetangga. Dan ada pula faktor pribadi/ personal yang mempengaruhi perilaku konsumen, termasuk diantaranya gaya hidup seseorang dimana pola hidup yang diekspresikan oleh kegiatan dan minat seseorang. Gaya hidup dapat mencerminkan seseorang secara keseluruhan. Kemudian harga maupun kualitas kertas loose leaf juga sebagai bahan pertimbangan kustomer. Selanjutnya, dengan pernyataan bahwa loose leaf mudah dibawa dan digunakan, konsumen (dalam hal ini: pelajar dan mahasiswa) cenderung menggunakan loose leaf karena praktis dan dapat dipakai untuk keseluruh kegiatan sekolah (tidak perlu membawa semua buku yang ada). Selain itu, karena pengguna sudah lebih dahulu memiliki binder file, maka dipakailah loose leaf. Pernyataan ini sesuai dengan Teori Tahapan Perilaku Konsumen, dimana pada fase evaluasi alternative, berdasarkan berbagai informasi yang ada, konsumen mulai mengevaluasi alternative pilihan yang dapat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan yang diperlukannya. Pada tahap ini konsumen mulai memiliki preferensi terhadap satu produk/jasa tertentu. Faktor lain yang mempengaruhi penggunaan loose leaf adalah adanya promosi yang lebih gencar agar kustomer tertarik pada produk, variant produk yang bervariasi serta kemasan produk yang menarik/ eye catching juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kostumer untuk membeli loose leaf. Berdasarkan salah satu komponen 4P, dimana produk yang dipasarkan/ tawarkan harus memiliki suatu diferensiasi dari kompetitornya, seperti variasi produk, kualitas yang diberikan, desain, dan kemasan yang harus menarik perhatian konsumen.