Kondisi perkampungan yang terletak di Jalan Padang, Medan Tembung pada
tanggal 7 Maret 2018 terlihat rumah-rumah yang berjejer di kanan kiri rel
kereta api. Ketika dilihat sekilas tiada arti dari sebuah bangunan yang
dipandang orang awam hanyalah gubuk dan bagi mereka adalah sebuah istana. Sebuah
istana dimana mereka yang masih bisa hidup dan menjalankan aktivitas
sehari-hari. Walau keadaannya seperti yang kita lihat pada gambar, kondisi
rumah dan lingkungannya sangat tidak nyaman. Sampah berserakan dimana-mana
begitu juga dengan polusi yang dapat menyebabkan berbagai penyakit.
Keindahan dari suatu kota harusnya dilihat dari semua sudut perkotaan,
apalah gunanya ketika di pusat kota megah nan asri tetapi di sudut kota
sembaliknya. Pemerintah seharusnya lebih sering berjalan-jalan ke sudut-sudut
kota dan meratapi nasib rakyatnya yang termasuk juga penerus bangsa ini.
Pemerintah terlalu sibuk membuncitkan perut mereka sehingga lalai dalam hal
seperti ini. Dampak dari kondisi perkampungan ini sangat mempengaruhi rakyat
dan meningkatkan tingkat kemiskinan Negara, dan saya selalu bingung kenapa
sampai detik ini orang yang berada diatas tidak pernah melihat kebawah dan
selalu ingin melihat keatas.
Sungguh miris Negeriku ini, sungguh kejam Indonesiaku ini.
Sungguh miris Negeriku ini, sungguh kejam Indonesiaku ini.
Semoga pemerintah sadar bahwa masih banyak kehidupan yang harus diselamatkan
agar negeri ini makmur dan lebih maju. Memberikan fasilitas dan menampung
orang-orang yang tinggal di pinggiran akan lebih membantu dalam membangun
negeri kita ini.
“Tidak perlu Gold untuk tetap bersinar “ pepatah tersebut menyadarkan kita bahwa
bukan kemewahan yang dapat melahirkan sebuah senyuman dan kehangatan tetapi
bersyukur merasa cukup dan selalu melihat kebawah akan lebih membuat kita
merasa semua yang kita miliki memang sudah ditakdirkan untuk kita miliki dan
apa yang tidak kita miliki ditakdirkan untuk tidak kita miliki.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar