· Pengertian
Daur
Daur ialah jangka
pembentukan kayu dan waktu yang diperlukan untuk sehingga pohon tersebut dapat
ditebang. Daur merupakan factor pertama yang mempengaruhi hasil. Pada kondisi
system tebang habis penentuan daur dapat secara tepat dan waktu yang jelas.
Sedangkan pada system yang lain seperti tebang pilih daur biasanya disebut
dengan istilah siklus tebang, dalam hal ini merupakan umur rata-rata dari pohon
yang telah mencapai suatu diameter tertentu bagi suatu objek manajemen (Jerram,
1935)
·
Faktor
- faktor yang mempengaruhi Daur
Ada
2 faktor yang mempengaruhi daur yaitu faktor fisik dan faktor finansial. Yang
pertama ialah produk apa yang diinginkan atau dapat dijual dengan baik (dalam
kaitan pemasaran atau permintaan), dan yang kedua tentang produktivitas hutan,
atau apa yang dapat ditumbuhkan (penawaran). Secara jelas memang masalah biaya
dan pendapatan juga masuk dalam kedua faktor tersebut. Kedua faktor tersebut
harus diintegrasikan dan penentuan daur berkaitan dengan tujuan manajemen.
Walaupun memang pada akhirnya penentuan final tentang daur merupakan keputusan
politik/ kebijakan. Faktor Phisik Yang meliputi nilai produk dan factor
hutannya itu sendiri. Dalam hal ini nilai produk dapat dikatakan bahwa karena
tujuan budidaya hutan ialah untuk memanfaatkan kayu, jadi ukuran dan kualitas
dari kayu merupakan hal yang sangat penting dalam menentukan panjang daur.
Apakah produknya untuk kayu bakar, kayu pulp, atau kayu pertukangan. Penggunaan
kayu untuk kayu pertukangan jelas membutuhkan ukuran tertentu, misalnya minimal
kayu harus mempunyai diameter sebesar 35 cm. Maka untuk ini, daur ditentukan
berapa lama jenis pohon tersebut pada tempat tumbuh tertentu dapat mencapai
diameter tersebut. Demikian juga bila pohon yang akan kita tanam merupakan
jenis yang akan dimanfaatkan untuk kayu pulp, maka diameter minimal untuk kayu
pulp itu berapa? Jadi disini tujuan manajemen dalam menanam pohon perlu
diperhatikan. Pada manajemen hutan seumur, panjangnya daur harus ditentukan
untuk jenis pohon utama, sedang jenis pohon yang lain mengikuti bagaimana
baiknya.
·
Macam-macam
Daur
Beberapa
macam daur dalam hal ini dikenal adanya :
1).Daur fisik;
2).Daur
Silvikultur;
3).Daur tekhnik;
4).daur volume
produksi maksimal;
5).Daur
pendapatan tertinggi (Maksimal); dan
6).Daur
finansial atau Daur ekonomis.
·
Pengertian
Riap
Riap
adalah pertambahan diameter, bidang dasar (basal area), tinggi, volume, mutu,
atau nilai suatu pohon atau tegakan selama jangka waktu tertentu. Riap kasar
(gross increment) menunjukkan nilai yang belum dikurangi dengan suatu faktor
yang disebabkan oleh mortalitas atau kemunduran mutu. Sedang riap netto adalah
nilai yang diperoleh setelah pengurangan faktor tersebut. Di Indonesia, riap
biasanya dinyatakan dalam m3/ha/tahun.
Riap
merupakan tulang punggung ilmu manajemen hutan, yang bertujuan untuk
menghasilkan kayu. Tanpa informasi tentang riap, suatu rencana pengelolaan
hutan tidak lebih dari sekedar petunjuk untuk menghadapi pekerjaan-pekerjaan di
lapangan, dan bukan merupakan suatu rencana yang harus dilaksanakan untuk
mencapai tujuan pengelolaan.
·
Riap
Individu Pohon
Untuk individu pohon
akan dibahas riap diameter, riap tinggi, dan riap volume. Riap diameter
biasanya diwakili oleh riap diameter stinggi dada. Riap diameter merupakan
salah satu komponen yang penting dalam menentukan riap volume. Alat yang paling
banyak dipakai untuk mengukur riap diameter adalah “bor riap”. Tetapi alat ini
hanya efektif untuk mengukur riap pohon yang mempunyai lingkaran tahun yang
jelas. Sebagian besar jenis pohon yang berasal dari hutan tropika basah tidak
mempunyai lingkaran tahun yang nyata dan pembentukan lingkaran pertumbuhan
tidak berkaitandengan siklus tahunan. Riap diameter tiap tahun dapat dikur dari
lebar antara lingkaran tahun tertentu. Lingkaran tahun dapat dipakai juga untuk
menghitung umur pohon.
Riap Tinggi juga mempunyai peranan dalam perhitungan ripa volume, terutama
untuk tegakan yang masih muda.
·
Penentuan
Riap Tinggi
Ada empat cara untuk menentukan
riap tinggi, yaitu:
a) Menaksir
atau mengukur panjang ruas tahunan. Cara ini hanya dapat dipakai untuk spesies
tertentu saja terutama spesies dari daerah temperate dan boreal.
b) Analisis
tinggi (height analysis) terhadap pohon yang ditebang. Dengan menghitung
lingkaran tahun pada penampang lintang pohon untuk berbagai ketinggian, akan
dapat diketahui pertambahan tinggi selama periode waktu tertentu. Cara ini
dapat dilakukan untuk semua spesies yang mempunyai lingkaran tahun.
c) Mengukur
pertambahan tinggi pohon selama periode waktu tertentu. Pengukuran tinggi dapat
menggunakan hypsometer. Cara ini dapat dilakukan untuk semua jenis pohon,
tetapi memerlukan waktu yang lama untuk menunggu sampai pada pengukuran yang
kedua.
d) Menentukan riap tinggi dengan kurva tinggi.
Kurva tinggi untuk semua spesies bergantung pada umur. Sampai umur tertentu,
pohon sudah tidak lagi tumbuh meninggi, dan sejak itu volume pohon hanya dipengaruhi
oleh riap diameter.
Riap volume pohon
adalah pertambahan volume selama jangka waktu tertentu. Dalam teori, riap volume
dapat ditentukan secara tepat dengan mengurangi volume pada akhir periode (B)
dengan volume pohon tersebut pada awal peroide (A).
·
Study
kasus
Penentuan
Daur dan Riap Tegakan Gmelina
·
Daur
A.
Daur Biologis
Jumlah pohon per ha adalah
2.500 pohon atau dengan jarak tanam awal tegakan gmelina adalah 2 m x 2 m. Diketahui
bahwa pertumbuhan tegakan gmelina di lokasi penelitian relatif rendah dengan
MAI tertinggi adalah 9,77 m /tahun pada 3 tahun ke-7. Jenis hutan rakyat lain
seperti jabon dapat mencapai MAI hingga 30 m (Indrajaya & 3 Siarudin, 2013)
atau sengon yang dapat mencapai 60 m /tahun pada umur enam tahun pada kualitas 3
tempat tumbuh bagus (Krisnawati et al., 2011). Daur biologis tegakan gmelina di
lokasi penelitian adalah delapan tahun yaitu ketika MAI = CAI. Karena
pertumbuhannya relatif lebih lambat dibandingkan jenis hutan rakyat yang lain
(sengon dan jabon), maka daur biologisnya pun menjadi relatif lebih panjang.
Daur biologis tegakan sengon berkisar antara 5-7 tahun pada bonita empat hingga
dua (Indrajaya, 2013), sedangkan daur biologis optimal jabon adalah lima tahun (Indrajaya &
Siarudin, 2013).
B. Daur Finansial
Penentuan daur
finansial Faustmann meng- gunakan beberapa asumsi, yaitu: 1) pemanenan tegakan
gmelina dilakukan secara tebang habis; 2) permudaan dilakukan pada tahun yang
sama dengan penanaman melalui bibit; 3) tingkat harga, suku bunga riil dan
pertumbuhan pohon telah diketahui dan tetap (Indrajaya & Siarudin, 2013). Berdasarkan
wawancara dengan responden, harga kayu gmelina di tingkat petani adalah Rp 500.000/m
dengan biaya pemanenan Rp 50.000/3 m . Biaya pembangunan hutan tanaman gmelina 3
adalah Rp 14.590.000 (Lampiran 1). Suku bunga riil dalam perhitungan adalah 4%
(rata-rata suku bunga riil di Indonesia selama 10 tahun
terakhir). Dengan menggunakan persamaan (8), hasil perhitungan memperoleh daur
finansial optimal tegakan gmelina sebesar 10,5 tahun. Diketahui bahwa petani
akan memperoleh hasil yang maksimal apabila menebang tegakan gmelinanya pada
tahun ke-10,5 dibanding tahun ke-8 mengikuti daur biologisnya. Daur optimal
finansial tegakan gmelina sedikit lebih panjang dibanding daur biologisnya,
seperti halnya jenis sengon maupun jabon (Indrajaya, 2013;Indrajaya &
Siarudin, 2013).
C. Analisis Sensitivitas
Analisis sensitivitas
dilakukan untuk menguji seberapa sensitif hasil dari perhitungan daur Faustmann
dipengaruhi oleh faktor eksogenus, yaitu faktor yang berada di luar model.
Faktor- faktor di luar model dapat memengaruhi peubah (harga kayu, tingkat suku
bunga, biaya pembuatan tanaman dan tingkat produksi kayu). Perubahan harga kayu
gmelina yang digunakan dalam analisis sensitivitas adalah Rp 750.000 dan Rp
1.000.000. Hasil analisissensitivitas model terhadap harga kayu disajikan
dalamGambar 3. Dari Gambar 3 diketahui bahwa daur financial Faustmann
berbanding terbalik dengan peningkatan harga kayu gmelina. Peningkatan harga
kayu gmelina akan memperpendek daur Faustmann; sebaliknya, penurunan harga kayu
gmelina akan memperpanjang daur Faustmann.
Harga kayu yang semakin tinggi akan menyebabkan
nilai sekarang menjadi lebih tinggi dan kemungkinan untuk mendapatkan keuntungan
dari daur berikutnya menjadi lebih tinggi sehingga keputusan untuk mempercepat pemanenan
kayumenjadi pilihan yang tepat.
·
Riap
A. Kurva
Pertumbuhan Asumsi
Kurva pertumbuhan
asumsi adalah kurva yang dipakai sebagai dasar prediksi pertumbuhan dan riap
Gmelina sebagaimana tertera dalam dokumen Studi Kelayakan yang telah disetujui
oleh Departemen Kehutanan tahun 1996. Kurva pertumbuhan hasil studi kelayakan tersebut
dinyatakan secara garis lengkung (curve)
Selanjutnya kurva pertumbuhan hasil studi kelayakan tersebut disebut sebagai kurva
A.
B. Kurva
Pertumbuhan Sebenarnya
Kurva pertumbuhan
sebenarnya dibuat berdasarkan rekaman data pertumbuhan dan riap hasil
pengamatan di PUP. Kurva pertumbuhan sebenarnya sebagai hasil pengukuran PUP
dinyatakan secara garis dengan teknik yang sama dengan kurva A dan selanjutnya
disebut kurva B.
C.
Analisis Pertumbuhan
Analisis data yang
dipakai dalam penelitian adalah membandingkan kurva
pertumbuhan asumsi (kurva A) dengan
kurva pertumbuhan sebenarnya (kurva B). Bila kurva A dan B ini berbeda maka
daur yang ditetapkan dalam Studi Kelayakan tidak dapat dipakai. Untuk
mengetahui kurva pertumbuhan asumsi dan kurva pertumbuhan sebenarnya berbeda
atau tidak dilakukan analisa kelompok data dengan membandingkan hasil persamaan
analisis regresi sebagaimana yang dikemukakan oleh Freese (1974).