Kamis, 25 April 2019

SUNGGUH KEJAM NEGERIKU INI ….




Kondisi perkampungan yang terletak di Jalan Padang, Medan Tembung pada tanggal 7 Maret 2018 terlihat rumah-rumah yang berjejer di kanan kiri rel kereta api. Ketika dilihat sekilas tiada arti dari sebuah bangunan yang dipandang orang awam hanyalah gubuk dan bagi mereka adalah sebuah istana. Sebuah istana dimana mereka yang masih bisa hidup dan menjalankan aktivitas sehari-hari. Walau keadaannya seperti yang kita lihat pada gambar, kondisi rumah dan lingkungannya sangat tidak nyaman. Sampah berserakan dimana-mana begitu juga dengan polusi yang dapat menyebabkan berbagai penyakit.
Keindahan dari suatu kota harusnya dilihat dari semua sudut perkotaan, apalah gunanya ketika di pusat kota megah nan asri tetapi di sudut kota sembaliknya. Pemerintah seharusnya lebih sering berjalan-jalan ke sudut-sudut kota dan meratapi nasib rakyatnya yang termasuk juga penerus bangsa ini. Pemerintah terlalu sibuk membuncitkan perut mereka sehingga lalai dalam hal seperti ini. Dampak dari kondisi perkampungan ini sangat mempengaruhi rakyat dan meningkatkan tingkat kemiskinan Negara, dan saya selalu bingung kenapa sampai detik ini orang yang berada diatas tidak pernah melihat kebawah dan selalu ingin melihat keatas.             
Sungguh miris Negeriku ini, sungguh kejam Indonesiaku ini.
Semoga pemerintah sadar bahwa masih banyak kehidupan yang harus diselamatkan agar negeri ini makmur dan lebih maju. Memberikan fasilitas dan menampung orang-orang yang tinggal di pinggiran akan lebih membantu dalam membangun negeri kita ini.
 “Tidak perlu Gold untuk tetap bersinar “ pepatah tersebut menyadarkan kita bahwa bukan kemewahan yang dapat melahirkan sebuah senyuman dan kehangatan tetapi bersyukur merasa cukup dan selalu melihat kebawah akan lebih membuat kita merasa semua yang kita miliki memang sudah ditakdirkan untuk kita miliki dan apa yang tidak kita miliki ditakdirkan untuk tidak kita miliki.


ISOLASI JAMUR DAN PDA



                Jamur atau fungi terdiri dari kapang dan khamir. Jamur adalah organisme heterotrofik, mereka memerlukan senyawa organic untuk nutrisinya. Bila mereka hidup dari benda organic mati yang terlarut mereka disebut saprofit. Jamur mempunyai dinding sel yang kaku dan berbentuk uniseluler atau multiseluler sebagian mempunyai ukuran yang mikroskopis sedangkan yang lainnya mempunyai ukuran yang cukup besar seperti jamur merang. Jamur tidak mengandung klorofil sehingga tidak berfotosintesis. Fungi tidak menelan makanannya tetapi harus berupa nutrient yang larut agar dapat diabsorpsi. Fungi yang multiseluler menghasilkan filament yaitu struktur mikroskopis seperti benang yang disebut hifa. Kumpulan hifa disebut miselium, fungi uniseluler yang terkenal adalah ragi dengan berbagai bentuk seperti bulat hingga oval, elips hingga ke bentuk filament. Jamur sudah tidak asing lagi bila kita lihat misalnya warna biru dan hijau pada buah jeruk dan keju warna putih seperti bulu pada roti, jamur di lapangan.
            Jamur adalah organisme eukariotik (mempunyai inti sel) tidak mempunyai klorofil, mempunyai spora, struktur somatic atau talus berupa sel tunggal (uniseluler) dan umumnya berupa filament atau benang-benang bercabang (multiseluler), berkembangbiak secara seksual dan aseksual, dinding sel umumnya terdiri dari kitin dan selulosa atau keduanya. Jamur merupakan organisme yang tidak mempunyai klorofil sehingga ia tidak mampu untuk memproduksi makan sendiri karena jamur tidak bisa memanfaatkan karbondioksida sebagai sumber karbonnya. Karbon berasal dari sumber anorganik misalnya glukosa. Oleh karena itu jamur memerlukan senyawa organic baik dari bahan organic mati maupun dari organisme hidup sehingga jamur dikatakan heterotroph. Jamur ini ada yang hidup dan memperoleh makanan dari organisme hidup da nada pula yang memperoleh makanan dari bahan organic mati seperti sisa-sisa hewan atau tumbuhan. Jamur hidup dan memperoleh makanan dari bahan organic mati dinamakan saprofit, sedangkan yang hidup dan memperoleh makanan dari organisme hidup dinamakan parasite. Beberapa spesies dapat menggunakan nitrogen, itulah sebabnya mengapa medium biakan untuk jamur biasanya berupa pepton, suatu produk protein yang terhidrolisis (Kusnadi, 2003).
            Sifat kultural dari jamur dapat dilihat dengan kenampakan pertumbuhannya pada makanan. Pada permukaan bahan makanan tampak kering, membentuk massa serbuk, kadang-kadang halus dan lunak atau kelihatan basah dan berair. Warna miselia hijau biru, biru kehijauan, kuning, orange, merah muda, coklat, abu-abu, dan hitam (Kusnadi, 2003).
Klasifikasi jamur terutama didasarkan pada ciri-ciri spora seksual dan tubuh buah yang ada selama tahap-tahap seksual. Jamur mampu memanfaatkan berbagai macam bahan untuk gizinya, sekalipun demikian mereka itu heterotroph. Berbeda dengan bakteri, mereka tidak dapat menggunakan senyawa karbon anorganik, seperti karbondioksida. Karbon berasal dari sumber organic, misalnya glukosa. Beberapa spesies dapat menggunakan nitogen, itulah sebabnya mengapa medium biakan untuk cendawan biasanya berisikan pepton, suatu produk protein yang terhidrolisis (Kusnadi, 2003).
Pada penentuan populasi jamur tanah, udara, dan roti media agar yang digunakan adalah PDAnyang telah diberi antibiotic. Prinsip dari isolasi jamur adalah PDA yang telah diberi antibiotic. Prinsip dari isolasi jamur adalah memisahkan atau menumbuhkan suatu jenis jamur dengan jamur lain yang berasal dari campuran bermacam-macam jamur. Hal ini dapat dilakukan dengan menumbuhkannya dalam media padat, karena dalam media padat jamur akan membentuk suatu koloni yang tetap pada tempatnya. Media yang digunakan dalam isolasi ini harus sesuai dengan mikroorganisme yang akan kita ketahui populasinya. Karena kalau tidak sesuai agarnya maka mikroorganisme tidak akan tumbuh.
Kita mengisolasijamur pada udara, roti dan tanah dengan meremas-remas roti dan tanah. Tujuannya agar pada saat ketiganya dimasukkan ke media PDA, jamur dapat tumbuh dan bisa berkembang dalam waktu yang cukup lama agar nantinya kita dapat mengamati perkembangan jamur tersebut. Media PDA yang berisikan jamur itu akan diletakkan di sembarang tempat besar kemungkinan jamur tersebut akan terganggu perkembangbiakannya dan akan terkontaminasi dengan udara, serta tidak steril, dengan begitu makankeberhasilan yang akan didapatkan akan kecil. Maka dari itu pada incubator jamur akan diletakkan dengan suhu yang pas yang telah disesuaikan untuk perkembangan jamur tersebut.
Banyak jamur yang sudah dikenal perannannya yaitu jamur yang tumbuh di roti , buah, keju, ragi, dalam pembuatan bird an dapat merusak tekstil yng lembab. Beberapa jenis memproduksi antibiotic yag digunakan dalam terapi berbagai infeksi bakteri. Diantanya semua organisme jamur adalah organisme yang paling banyak menghasilkan enzim yang bersifat degradatif yang menyerang secara langsung seluruh material organic. Adanya enzim yang bersifat degradatif ini menjadikan jamur bagian yang sangat penting dalam mendaur ulang sampah alam, dan sebagai decomposer dalam siklus biogeokimia (Hadioetomo, 1993).
Semua unsur kimia di alam akan beredar melalui jalur tertentu dari lingkungan ke organisme atau makluk hidup dan kembali lagi ke lingkungan. Semua bahan kimia dapat beredar berulang-ulang melewati ekosistem secara tak terbatas. Jika suatu organisme itu mati maka bahan organic yang terdapat pada tubuh organisme tersebut akan dirombak menjadi komponen abiotic dan dikembalikan lagi ke dalam lingkungan. Peredaran bahan abiotic dari lingkungan melalui komponen biotik dan kembali lagi ke lingkungan dikenal sebagai siklus biogeokimia  (Kusnadi, 2003).
Isolasi jamur dapat dilaksanakan dengan menggunakan media PDA . jamur yang diisolasi adalah jamur yang ada dalam roti, udara, dan tnah. Pada jamur yang ada di udara dideteksi bahwa merupakan jamur rhizophus. Pada roti terdeteksi jamur rhizhopus, torula dan aspergilus. Pada tanah terdeteksi jamur penicillium, clodosporrium, rhizhopus, dan fusarium. Teknik isolasi jamur harus dilakukan secara aseptic agar tidak terkontaminasi mikroba. Dapat juga digunakan antimikrobia pada media.

DAUR DAN RIAP TEGAKAN


·         Pengertian Daur
Daur ialah jangka pembentukan kayu dan waktu yang diperlukan untuk sehingga pohon tersebut dapat ditebang. Daur merupakan factor pertama yang mempengaruhi hasil. Pada kondisi system tebang habis penentuan daur dapat secara tepat dan waktu yang jelas. Sedangkan pada system yang lain seperti tebang pilih daur biasanya disebut dengan istilah siklus tebang, dalam hal ini merupakan umur rata-rata dari pohon yang telah mencapai suatu diameter tertentu bagi suatu objek manajemen (Jerram, 1935)

·         Faktor - faktor yang mempengaruhi Daur
Ada 2 faktor yang mempengaruhi daur yaitu faktor fisik dan faktor finansial. Yang pertama ialah produk apa yang diinginkan atau dapat dijual dengan baik (dalam kaitan pemasaran atau permintaan), dan yang kedua tentang produktivitas hutan, atau apa yang dapat ditumbuhkan (penawaran). Secara jelas memang masalah biaya dan pendapatan juga masuk dalam kedua faktor tersebut. Kedua faktor tersebut harus diintegrasikan dan penentuan daur berkaitan dengan tujuan manajemen. Walaupun memang pada akhirnya penentuan final tentang daur merupakan keputusan politik/ kebijakan. Faktor Phisik Yang meliputi nilai produk dan factor hutannya itu sendiri. Dalam hal ini nilai produk dapat dikatakan bahwa karena tujuan budidaya hutan ialah untuk memanfaatkan kayu, jadi ukuran dan kualitas dari kayu merupakan hal yang sangat penting dalam menentukan panjang daur. Apakah produknya untuk kayu bakar, kayu pulp, atau kayu pertukangan. Penggunaan kayu untuk kayu pertukangan jelas membutuhkan ukuran tertentu, misalnya minimal kayu harus mempunyai diameter sebesar 35 cm. Maka untuk ini, daur ditentukan berapa lama jenis pohon tersebut pada tempat tumbuh tertentu dapat mencapai diameter tersebut. Demikian juga bila pohon yang akan kita tanam merupakan jenis yang akan dimanfaatkan untuk kayu pulp, maka diameter minimal untuk kayu pulp itu berapa? Jadi disini tujuan manajemen dalam menanam pohon perlu diperhatikan. Pada manajemen hutan seumur, panjangnya daur harus ditentukan untuk jenis pohon utama, sedang jenis pohon yang lain mengikuti bagaimana baiknya.

·         Macam-macam Daur
Beberapa macam daur dalam hal ini dikenal adanya :
1).Daur fisik;
2).Daur Silvikultur;
3).Daur tekhnik;
4).daur volume produksi maksimal;
5).Daur pendapatan tertinggi (Maksimal); dan
6).Daur finansial atau Daur ekonomis.

·         Pengertian Riap
Riap adalah pertambahan diameter, bidang dasar (basal area), tinggi, volume, mutu, atau nilai suatu pohon atau tegakan selama jangka waktu tertentu. Riap kasar (gross increment) menunjukkan nilai yang belum dikurangi dengan suatu faktor yang disebabkan oleh mortalitas atau kemunduran mutu. Sedang riap netto adalah nilai yang diperoleh setelah pengurangan faktor tersebut. Di Indonesia, riap biasanya dinyatakan dalam m3/ha/tahun.
Riap merupakan tulang punggung ilmu manajemen hutan, yang bertujuan untuk menghasilkan kayu. Tanpa informasi tentang riap, suatu rencana pengelolaan hutan tidak lebih dari sekedar petunjuk untuk menghadapi pekerjaan-pekerjaan di lapangan, dan bukan merupakan suatu rencana yang harus dilaksanakan untuk mencapai tujuan pengelolaan.

·         Riap Individu Pohon
Untuk individu pohon akan dibahas riap diameter, riap tinggi, dan riap volume. Riap diameter biasanya diwakili oleh riap diameter stinggi dada. Riap diameter merupakan salah satu komponen yang penting dalam menentukan riap volume. Alat yang paling banyak dipakai untuk mengukur riap diameter adalah “bor riap”. Tetapi alat ini hanya efektif untuk mengukur riap pohon yang mempunyai lingkaran tahun yang jelas. Sebagian besar jenis pohon yang berasal dari hutan tropika basah tidak mempunyai lingkaran tahun yang nyata dan pembentukan lingkaran pertumbuhan tidak berkaitandengan siklus tahunan. Riap diameter tiap tahun dapat dikur dari lebar antara lingkaran tahun tertentu. Lingkaran tahun dapat dipakai juga untuk menghitung umur pohon.

Riap Tinggi juga mempunyai peranan dalam perhitungan ripa volume, terutama untuk tegakan yang masih muda.
·         Penentuan Riap Tinggi
Ada empat cara untuk menentukan riap tinggi, yaitu:
a)      Menaksir atau mengukur panjang ruas tahunan. Cara ini hanya dapat dipakai untuk spesies tertentu saja terutama spesies dari daerah temperate dan boreal.
b)      Analisis tinggi (height analysis) terhadap pohon yang ditebang. Dengan menghitung lingkaran tahun pada penampang lintang pohon untuk berbagai ketinggian, akan dapat diketahui pertambahan tinggi selama periode waktu tertentu. Cara ini dapat dilakukan untuk semua spesies yang mempunyai lingkaran tahun.
c)      Mengukur pertambahan tinggi pohon selama periode waktu tertentu. Pengukuran tinggi dapat menggunakan hypsometer. Cara ini dapat dilakukan untuk semua jenis pohon, tetapi memerlukan waktu yang lama untuk menunggu sampai pada pengukuran yang kedua.
d)      Menentukan riap tinggi dengan kurva tinggi. Kurva tinggi untuk semua spesies bergantung pada umur. Sampai umur tertentu, pohon sudah tidak lagi tumbuh meninggi, dan sejak itu volume pohon hanya dipengaruhi oleh riap diameter.
Riap volume pohon adalah pertambahan volume selama jangka waktu tertentu. Dalam teori, riap volume dapat ditentukan secara tepat dengan mengurangi volume pada akhir periode (B) dengan volume pohon tersebut pada awal peroide (A).

·         Study kasus
Penentuan Daur dan Riap Tegakan Gmelina
·         Daur
A.    Daur Biologis
Jumlah pohon per ha adalah 2.500 pohon atau dengan jarak tanam awal tegakan gmelina adalah 2 m x 2 m. Diketahui bahwa pertumbuhan tegakan gmelina di lokasi penelitian relatif rendah dengan MAI tertinggi adalah 9,77 m /tahun pada 3 tahun ke-7. Jenis hutan rakyat lain seperti jabon dapat mencapai MAI hingga 30 m (Indrajaya & 3 Siarudin, 2013) atau sengon yang dapat mencapai 60 m /tahun pada umur enam tahun pada kualitas 3 tempat tumbuh bagus (Krisnawati et al., 2011). Daur biologis tegakan gmelina di lokasi penelitian adalah delapan tahun yaitu ketika MAI = CAI. Karena pertumbuhannya relatif lebih lambat dibandingkan jenis hutan rakyat yang lain (sengon dan jabon), maka daur biologisnya pun menjadi relatif lebih panjang. Daur biologis tegakan sengon berkisar antara 5-7 tahun pada bonita empat hingga dua (Indrajaya, 2013), sedangkan daur biologis optimal jabon adalah lima tahun  (Indrajaya & Siarudin, 2013).

B. Daur Finansial
Penentuan daur finansial Faustmann meng- gunakan beberapa asumsi, yaitu: 1) pemanenan tegakan gmelina dilakukan secara tebang habis; 2) permudaan dilakukan pada tahun yang sama dengan penanaman melalui bibit; 3) tingkat harga, suku bunga riil dan pertumbuhan pohon telah diketahui dan tetap (Indrajaya & Siarudin, 2013). Berdasarkan wawancara dengan responden, harga kayu gmelina di tingkat petani adalah Rp 500.000/m dengan biaya pemanenan Rp 50.000/3 m . Biaya pembangunan hutan tanaman gmelina 3 adalah Rp 14.590.000 (Lampiran 1). Suku bunga riil dalam perhitungan adalah 4% (rata-rata suku bunga riil di Indonesia selama 10 tahun terakhir). Dengan menggunakan persamaan (8), hasil perhitungan memperoleh daur finansial optimal tegakan gmelina sebesar 10,5 tahun. Diketahui bahwa petani akan memperoleh hasil yang maksimal apabila menebang tegakan gmelinanya pada tahun ke-10,5 dibanding tahun ke-8 mengikuti daur biologisnya. Daur optimal finansial tegakan gmelina sedikit lebih panjang dibanding daur biologisnya, seperti halnya jenis sengon maupun jabon (Indrajaya, 2013;Indrajaya & Siarudin, 2013).

C. Analisis Sensitivitas
Analisis sensitivitas dilakukan untuk menguji seberapa sensitif hasil dari perhitungan daur Faustmann dipengaruhi oleh faktor eksogenus, yaitu faktor yang berada di luar model. Faktor- faktor di luar model dapat memengaruhi peubah (harga kayu, tingkat suku bunga, biaya pembuatan tanaman dan tingkat produksi kayu). Perubahan harga kayu gmelina yang digunakan dalam analisis sensitivitas adalah Rp 750.000 dan Rp 1.000.000. Hasil analisissensitivitas model terhadap harga kayu disajikan dalamGambar 3. Dari Gambar 3 diketahui bahwa daur financial Faustmann berbanding terbalik dengan peningkatan harga kayu gmelina. Peningkatan harga kayu gmelina akan memperpendek daur Faustmann; sebaliknya, penurunan harga kayu gmelina akan memperpanjang daur Faustmann.
Harga kayu yang semakin tinggi akan menyebabkan nilai sekarang menjadi lebih tinggi dan kemungkinan untuk mendapatkan keuntungan dari daur berikutnya menjadi lebih tinggi sehingga keputusan untuk mempercepat pemanenan kayumenjadi pilihan yang tepat.

·         Riap
A.    Kurva Pertumbuhan Asumsi
Kurva pertumbuhan asumsi adalah kurva yang dipakai sebagai dasar prediksi pertumbuhan dan riap Gmelina sebagaimana tertera dalam dokumen Studi Kelayakan yang telah disetujui oleh Departemen Kehutanan tahun 1996. Kurva pertumbuhan hasil studi kelayakan tersebut dinyatakan secara garis lengkung (curve) Selanjutnya kurva pertumbuhan hasil studi kelayakan tersebut disebut sebagai kurva A.
B.     Kurva Pertumbuhan Sebenarnya
Kurva pertumbuhan sebenarnya dibuat berdasarkan rekaman data pertumbuhan dan riap hasil pengamatan di PUP. Kurva pertumbuhan sebenarnya sebagai hasil pengukuran PUP dinyatakan secara garis dengan teknik yang sama dengan kurva A dan selanjutnya disebut kurva B.
C.     Analisis Pertumbuhan
Analisis data yang dipakai dalam penelitian adalah membandingkan kurva
pertumbuhan asumsi (kurva A) dengan kurva pertumbuhan sebenarnya (kurva B). Bila kurva A dan B ini berbeda maka daur yang ditetapkan dalam Studi Kelayakan tidak dapat dipakai. Untuk mengetahui kurva pertumbuhan asumsi dan kurva pertumbuhan sebenarnya berbeda atau tidak dilakukan analisa kelompok data dengan membandingkan hasil persamaan analisis regresi sebagaimana yang dikemukakan oleh Freese (1974).